Setibanya di Negeri Gajah

Sabtu, 04 Mei 2013
Penerbangan menuju Thailand dari Singapore memakan waktu kurang lebih 2 jam. Seperti biasa, selama penerbanganku yang kedua itu di dalam pesawat aku masih sibuk dengan kameraku jeprat sana sini gak jelas. Aku masih menikmati keindahan negeri diatas awan ciptaanNya itu.

Tidak terasa tiba-tiba terdengar pengumuman dari pramugari bahwa pesawat akan segera mendarat di Hat Yai International Airport. Jantungku pun kembali bedetak kencang. Entah kenapa setiap pesawat hendak take off dan landing jantungku rasanya berpacu lebih kencang dari biasanya.

Mendaratlah sudah aku di Hat Yai Intrnational Airport. Bandara ini terbilang badara International baru di Thailand. Ukurannya juga tidak terlalu besar jauh lebih kecil dari SoeTa milik Indonesia. Armada penerbangan yang melayani rut eke bandara ini pun masih sangat sedikit, detidaknya yang kulihat ada pesawat Air Asia, Singapore Airlines, Thai Airlines, dan Tiger Airways yang aku tumpangi. Walau kecil tapi bandara ini sangat bersih dan semuanya tertata rapi. Bilik kaca dilorong-lorong memungkinkan kita melihat hiruk pikuk pesawat yang hendak landing dan take off.

Sesampainya di Thailand ini aku sedikit lebih tenang karena aku sudah janjian dengan panitia AASIC dan mereka siap untuk menjemputku. Aku segera mengambil kartu imigrasi dan segera mengisinya. Disaat aku mengisi kartu imigrasi inilah Allah kembali menurunkan keberuntunganNya kepadaku. Aku tidak sengaja melihat seorang pemuda mengenakan baju bertuliskan IPB. Tanpa pikir panjang aku segera menghampirinya. Ya..yang benar saja..dia juga ikutan AASIC. Wah…senang akhirnya bisa dapet teman dai Indonesia.

Namanya Roki mahasiswa semester 4, delegasi dari IPB. Nasibnya sama denganku, dia juga berangkat sendirian dari Bogor. Bahkan nasibnya jauh lebih tidak baik dari aku. Dia sempat ketinggalan pesawat ketika hendak terbang dari Soeta ke Changi. Akibatnya dia harus membeli tiket lagi untuk menuju Changi. Dia pun harus berdebat dengan resepsionis Tiger Airways karena pihak maskapai sempat menolak Roki saat hendak boarding ke Hat Yai dari Changi akibat dia tidak ikut penerbangan dari Jakarta ke Changi. Sampai akhirnya pihak maskapai memperbolehkannya. Aku salut dengan perjuangan dia hingga akhirnya bisa sampai ke Hat Yai juga. Bahkan entah hanya ketidaksengajaan atau apa, kami memesan tiket untuk berangkat dan pulang pada tanggal yang sama. Itu artinya aku bisa punya temen yang senasib selama aku di Thailand.haha

Ada satu kejadian lucu di bandara ini. Ketika kami hendak check di bagian imigrasi, kami diminta untuk menunjukkan kartu imigrasi yang telah kami isi. Ada salah seorang petugas wanita menghampiri aku dan Roki, dia mengecek kartu imigrasi yang ku bawa. Dia bertanya dengan bahasa yang tidak aku mengerti. “Hoteo, Hoteo, Hoteo” katanya. Aku dan Roki hanya saling pandang dan ketawa -ketiwi mendengar omongan wanita itu. Kami berdua sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu. Kembali wanita itu mengeluarkan kata yang sama. Kali ini dengan nada agak keras. “Mr. Hoteo, hoteo, hoteo” katanya. Posisi kami saat itu berada ditengah antrian panjang. Setiap penumpang harus menunjukkan kartu imigrasinya. Aku sungguh tidak tahu apa maksud wanita itu. Dan akhirnya aku pun memberanikan diri untuk ngomong. “I’m sorry miss, I don’t understand. What do you say? Can you speak in English?”kataku kepada petugas itu. Dengan cepat dia menjawa. “Yes Sir, I talk to you in English. Please you fill this box” katanya sambil menujuk salah satu bagian dari kartu imigrasi. Oalah…maksud dia itu mau ngomong hotel. Dia meminta kami mengisi box kosong bertuliskan apakah kalian akan menginap di hotel, asrama, atau tempat yang lainnya. Kami belum mengisinya karena kami memang belum tau mau nginep dimana. Hm…cengkok bahasa thai kali ya jadi ga jelas ngomongnya. Hotel jadi hoteo, hoteo, hoteo.wkwkwkwk.

Setelah urusan imigrasi beres, kami segera menuju pintu keluar. Huih…yang bener aja..di balik kaca sana ada seseorang dalam kerumunan membawa kertas bertuliskan “Mr.Isma, AASIC”. Wala…baru aja kemarin aku mengigau kapan ada orang yang njemput aku di bandara dengan gaya seperti itu, eh dengan cepat doa itu terwujud juga di Thailand.Wkwkwk..Sok penting banget deh gue.

Adalah mas Adam dan Pak Pantja, panitia AASIC yang menjemputku di Airport. Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di Thailand. Kami pun bercerita banyak dengannya di Airport sambil menunggu peserta lainnya yang juga katanya bakal datang. Sama dengan di Indonesia, cuaca disana sangat panas menyengat. Aku sangat haus waktu itu. Pucuk dicinta ulam pun mendekam, ada seorang yang sangat baik hati mentraktir kami minum es. Adalah seorang ibu-ibu salah satu peserta AASIC juga dari Indonesia. Dia adalah dosen dari salah satu universitas di Sumatera. Wah..mantap sekali..Terimakasih banyak bu..tau aja kalau kami limit uang batinku.wkwkwkwk

Disana kami berdiskusi dengan Pak Pantja mengeani tempat menginap. Sebelumnya sih aku sudah memesan hostel ke panitia yang pokoknya harganya termurah. Dan benar saja aku dicarikan hostel yang harganya cukup terjangkau. Roki bingung, dia belum pesan sebelumnya. Akhirnya pun aku menawarinya gabung denganku menginap di hostel yang sudah dipesankan untukku. Dia pun setuju. Kami sepakat untuk membayar biayanya setengah-setengah. Waha…mantap..bisa memangkas anggaran.wkwkwkwk.

Setelah semua peserta terkumpul. Pak Pantja mengantarkan kami menuju ke hostel. Kami harus naik taksi untuk sampai di hostel dan kami harus membayar sendiri karena tidak ada anggaran dari panitia untuk biaya akomodasi. 350 bath adalah uang pertama yang kami keluarkan di Thaland. Satu bath setara dengan 300  rupiah, jadi kira-kira ya habis 105.000 rupiah. Yah wajar lah..jarak tempuhnya cukup jauh sih. Dalam perjalanan menuju hostel itu Pak Pantja banyak bercerita mengenai Thailand. Aku tengak-tengok terus selama perjalanan melihat negeri gajah ini yang sepintas keadaanya tidak jauh beda dengan Indonesia.

Kami pun tiba di hostel. Namanya fancy court yang jaraknya tidak jauh dari Songkhla University. Ternyata hostel tersebut adalah semacam rumah kost. Pak Pantja juga ternyata ngekost di tempat itu. 303 adalah nomor kamar kami. Rasa lelah dibadan membuat kami segera menuju ke kamar. Dan wah…ternyata ukuran kamarnya cukup besar. Kasurnya juga besar. Dari kamar itu kita bisa melihat pemandangan kampus  Songkhla University. Cihuy lah pokonya dapet tempat menginap yang murah dan kualitasnya lumayan.wkwkwk.

Malam pertamaku di Thailand. Aku sangat tidak tenang dan nervous mengingat esok hari adalah hari konferensi dan aku harus presentasi. Esok hari bakal menjadi satu sejarah dalam hidupku dimana aku akan berbicara di depan forum Internasional. Jantungku seperti tak kuasa menahan detakan yang kencang. Aku terbanyang-bayang tentang apa yang bakal terjadi besok. Pokoknya aku akan berbuat semampuku esok hari. Siap atau tidak ya harus siap. Aku sudah sampai disini. Semalaman itu baik aku dan roki sibuk sendiri dengan laptop masing-masing. Aku hanya berdoa kepadaNya. “Ya Rab…berilah hamba kemudahan. Ijinkan hamba berbuat semaksimal mungkin esok hari. Jadikan setiap detik yang kujalani besok menjadi sebuah cerita indah yang akan ku kenang seumur hidupku. Hamba pasrah” aku menggumam dalam doa. Lalu cerita seperti apa yang terjadi di esok hari?wait the next story. Thanks for visit   

24 Hours in Singapore (Full of Miracle)

Jumat, 29 Maret 2013
Hampir 2 jam sudah aku menikmati my first flight. Cukup lama rasanya memandangi lautan awan, akhirnya mulai tampak daratan luas di bawah sana. Daratan itu nampak sangat berbeda dengan pulau-pulau lain yang ku lihat selama penerbangan tadi. Daratan itu terlihat amat rapi, lautnya terlihat dangkal, banyak kapal-kapal besar, gedung-gedung pencakar langit, dan sungguh luar biasa modern kayak negara di eropa. “Well passenger, now we will be landing in Singapore. Please use your safety seat belt. “ terdengar pengumuman dari awak pesawat. Wah…jadi ini Singapore?


Changi International Airport. Terlihat sekilas tulisan diatas gedung besar ketika pesawat landing dan berjalan menuju gate. Oh..ini ya bandara yang diklaim sebagai salah satu bandara terbaik di dunia sehingga dijadikan banyak maskapai untuk transit?. Dari luar terlihat biasa sih, gak jauh beda sama Soeta. Cuman lintasannya terlihat lebih luas dan banyak, halaman dan rumputnya tertata rapi, pesawat-pesawatnya lebih banyak dan Gedungnya jauh lebih besar.

 Pesawat sampai di Gate. Penumpang dipersilahkan untuk turun. Dag-dig-dug. Kembali Jantungku berdetak kencang setelah mendengar pengumuman itu. Ya bagaimana tidak, aku cuma sendirian dan aku tidak punya link di sini. Sedangkan aku harus hidup sehari disini untuk transit. Terlebih aku baru pertama ke Luar Negeri belum banyak tahu seperti apa keadaan bandara di sana. Rencanaku malam ini, aku akan menginap di bandara. Aku sudah persiapkan itu dengan membawa sleeping bed. Ya..maklum lah..management keuangan harus dipelihara dengan baik. Aku masih harus hidup seminggu lebih di negeri orang dengan bekal pas-pasan yang ku bawa.

Setelah sampai di Bandara, semula aku sempat bingung mau gimana. Bingung pula bagaimana cara mengambil bagasi. Mau bertanya kok malu.hehe… Aku hanya mengikuti orang-orang yang keluar dari pesawat tadi berjalan entah mau menuju kemana mereka. Aku Cuma berharap mereka menuju gedung depan bandara ini.

Tidak lama berjalan nampak papan digital bertuliskan Imigration office. Oh..keimigrasian. Aku bisa bertanya bagaimana cara mengambil bagasi disana. Batinku. Tapi setelah aku mendekat dan memperhatikan orang-orang disana, tiba-tiba jadi agak takut bertanya. Petugas imigrasinya kok serem-serem amat. Macam orang-orang India berkulit coklat tua. Hua..gimana ini…daripada bingung ga jelas akhirnya aku memberanikan diri bertanya. Hyalah….pelajaran berlaku disini. Jangan melihat sesuatu dari kenampakan luarnya saja. Ternyata walau muka mereka amat seram, tapi mereka sangat ramah dan friendly sekali. Semula aku begaya pake English, eh..setelah mengecek passportku mereka langsung beralih pake bahasa melayu. So kita cakap-cakap pake melayu la...Haha..

Aku belum mengisi surat imigrasi. Aku tak tahu sebelumnya kalau setiap ganti negara harus mengisi surat imigrasi dulu dan dikumpulkan di immigration office. Maklum lah baru pertama kok. Aku pun diminta mengisi dan setelah itu pasportku dicap lalu mereka menjelaskan bagaimana cara mengambil bagasi serta memberiku arah menuju gedung depan. Thanks a lot pak bu petugas Imigration atas bantuannya..hehe 

Aku berjalan mengikuti penunjuk arah digital yang terpampang jelas. Kalau seperti ini caranya mudah. Tidak mungkin kita tersesat. Tidak lama berjalan aku sudah sampai di gedung depan. Terlihat dari balik kaca banyak kerumunan orang yang membawa papan bertuliskan nama-nama. Ternyata mereka adalah para penjemput. Wah..enak ya..tiba bandara langsung dijemput macam itu. Pasti tidak bingung macam aku ini. Aku abaikan saja kerumunan itu wong ya siapa juga yang mau jemput aku.haha..Suatu saat nanti semoga aku bisa juga merasakan menjadi orang penting dan ada yang mau jemput aku di bandara macam itu.haha..Amin
Setelah keluar ruangan, aku menuju ke salah satu kursi yang ada di bagian gedung depan. Disana aku memutuskan untuk istirahat sejenak sambil berfikir, mau ngapain untuk mengisi waktu selama disini. Semula aku berencana untuk keluar bandara dan muter-muter, tapi aku urungkan niat karena diluar hujan sangat lebat. Aku juga sedikitpun tidak tahu jalur-jalur transportasi disini. Takut malah ilang. Padahal sebenarnya sangat ingin rasanya aku muter-muter di negeri Singa ini. Tapi ya gimana :O

Di tempat duduk itu aku bertemu dengan orang Indonesia. Semula aku pikir mereka orang china karena kulitnya macam itu. Tapi setelah aku melihat passport mereka kok ternyata sama-sama ijo. Hehe..Mereka kayaknya orang kaya nampak jelas dari penampilan mereka. Ya…aku memberanikan diri untuk bertanya. Sedikit banyak mereka menjelaskan mengenai bandara ini. Kami pun bercerita sejenak di tempat itu. Mereka nampak heran ketika aku jelaskan kalau aku datang sendirian dan ini penerbangan sekaligus overseasku yang pertama. Di Singapore pun aku gak punya kenalan siapa-siapa dan mau nekad nginep di bandara. “Emangnya kenapa sih kalo aku tidur di bandara, orang aku sudah biasa klekaran di lantai bahkan aku kan udah biasa tidur di tenda, “ Batinku melihat keheranan mereka.

 Mereka pergi dan aku sendiri lagi. Tidak terasa hari sudah mulai sore. Jamku sudah menunjukkan pukul 03.00 pm. Itu berarti sudah pukul 04.00 waktu Singapore. Aku teringat aku belum Sholat Dzhur dan Ashar. MasyaAllah...langsung aku cabut muter-muter cari mushola. Kesana-kemari aku cari-cari kok gak nemu. Sampek capek aku. Aku naik ke lantai dua dan muter-muter lagi tetep juga gak nemu musholanya. “Ah..ini mana sih musholanya. Bercanda bener, yang ada cuma toilet. Biasanya kan deket toilet-toilet gitu ada mushola. Masak iya sholat di toilet. Geje gile bener, “batinku.

Setelah capek gak nemu-nemu, aku memutuskan untuk bertanya. Tidak jauh dari tempatku berdiri ada petugas yang sedang becengkerama dan terlihat sedang menjelas-jelaskan sesuatu kepada calon penumpang. “Ah..dia pasti tahu, “batinku. Setelah mengantri, aku bisa juga bicara dengan dia. Dan disaat kebingungan itu, keajaiban pun diturunkanNya. Tak kusangka..petugas itulah yang dikirimkanNya menjadi Malaikat penolongku di Singapore.

Malaikat itu bernama Mr.Taha. Ya…dialah yang membawa salah satu mimpiku di negeri kecil nan mempesona ini menjadi kenyataan. Kami banyak ngobrol sore itu. Aku menjelaskan tentang nasibku dan semua maksud dan tujuanku berkelana ini. Entah kenapa dia seperti merasa heran dan mungkin kasian denganku. Sama dengan orang yang kutemui sebelumnya, dia pun juga kaget dengan kenekatanku yang pergi sendirian ke luar negeri dalam overseas pertamaku. “You are crazy”, katanya padaku. Aku Cuma cengar-cengir mendengar penjelasannya tentang risiko yang mungkin datang padaku.hehe..ya maaf Mr. namanya juga nekad dan belum tau apa-apa.

Dalam perbincangan itu dia menjelaskan kalau di bandara ini memang tidak ada mushola. Wa..aku kaget alias shock. Masak bandara kelas International dan salah satu terbaik ini gak punya mushola. Padahal bandara ini salah satu bandara yang digunakan transit para calon haji yang hendak ke Saudi. Lalu mereka pada sholat dimana batinku. Melihat keherananku dia kembali menjelaskan bahwa kita bisa sholat di manapun disini, orang-orang biasanya sholat di basement, di bawah tangga atau ditempat-tempat kosong dan sepi yang ada. Bahkan banyak pula yang sholat di deket toilet. Haha..aku kaget mendengar penjelasannya itu..masak iya sholat di deket toilet. Mana sah batinku.

Perbincangan sore itu mesti berakhir karena sudah banyak orang-orang mengantri dibelakangku untuk meminta informasi kepada dia. Dia meminta no.Hpku sebelum aku pergi. Next time we will meet again, I’ll call you. Katanya.  Segera setelah itu aku langsung cabut untuk mencari toilet untuk berwudhu. Aku turun ke basement untuk ke toilet dan mencari tempat untuk sholat. Ya ampun..aku lupa menanyakan kemana arah kiblat. Setelah wudhu aku liat kanan kiri siapa tahu ada yang mau sholat. Allah memang maha adil, tidak lama setelah itu aku lihat di arah depan ada dua laki-laki berpeci, berpakaian jubbah ala muslim sedang mendorong trail mereka. Tanpa banyak pikir langsung aku samperin mereka. Haha…hal konyol terjadi saat itu. Pertama aku bertanya dengan bahasa inggris dimana arah kiblat, tapi ternyata, “Heh mas…koe wong jowo yo?” mak pleret….wkwkwk parah..ternyata mereka orang Indonesia. “Kok tau mas, “tanyaku. “Suaramu kui lo mas..ra bisa ditutupi,”jawabnya. Haha batinku terbahak malu stengah mati.

Ya…kembali Malaikat diturunkanNya untukku. Mereka adalah Mas Zainal dan Mas Mulyanto. Mas Zainal asli Jakarta dan Mas Mul asli Gunungkidul. Pantas saja mas Mul tau logat jawaku..orang asli Gunungkidul.haha.Tapi ternyata beliau sudah lama hidup di Kalimantan.  Saudara-saudara baruku ini adalah dua orang muslim yang sudah sangat sering berhijrah ke penjuru dunia untuk berdakwah. Akhirnya aku punya teman sejenak. Mereka yang akhirnya mengajakku sholat berjamaah sore itu. Dan yang benar saja, kami sholat berjamaah di dekat toilet. haha…Disana banyak sekali orang sliwar-sliwer. “Kenapa le..gausah risih..kita terpaksa sholat disini karena memang gak ada masjid..yang penting niat kita baik..walaupun didekat toilet tapi tenang kebersihan terjamain bahkan mungkin justru lebih bersih dari masjid yang ada di negara kita.” Mas Mul menasehatiku. Haha..bener juga ya..walau di deket toilet tapi sedikitpun gak bau toilet dan sangat bersih.

Malam itu setelah sholat maghrib kami memutuskan untuk makan malam. Kami bertiga menuju restoran yang ada di airport. Selama makan malam itu mas Mul dan Mas Zainal banyak bercerita tentang muslim dan dakwah, tentang perjalanan hidup mereka dan mereka banyak memberiku nasehat. Satu pelajaran penting yang kudapat adalah kita harus tetap sholat walau dalam perantauan di negeri yang kaum muslim adalah minoritas seperti ini. Walau situasi dan kondisi seperti sulit dan tidak mungkin, tapi kita harus ingat kalau sholat itu wajib dan harus kita jalankan selagi kita mampu. Aku bersyukur malam itu dipertemukan dengan mereka. Diperantauan inipun Allah terus mengingatkanku untuk tetap dekat denganNya. Dan sungguh mereka orang yang sangat baik. Makan malam itupun aku ditraktir. Wah…Subhanallah sekali..Allah memang luar biasa.

Setelah makan malam kami cabut untuk sholat isya berjamaah. Kembali di dekat toilet.  Hm…dan perpisahan memang selalu pahit. Malam itu aku harus berpisah dengan mereka karena pesawat mereka depart jam 8 malam itu. Setelah itupun aku sendiri lagi. Daripada gak jelas gitu, aku putuskan untuk jalan-jalan berkeliling airport. Teringat kata Mr.Taha kalau kita bisa naik train gratis di airport. Kita bisa keliling airport dengan naik train itu. Aku pun muter-muter kesana-kemari bolak balik naik train. Haha..lumayan lah di Indonesia sepertinya jarang ada yang macam ini. Hm..jadi Changi International airport ini terdiri dari 3 terminal besar. Tempatku depart dan landing berada di terminal 2. Terminal 1 dan 3 ada di sampingnya. Bandara ini sangat luas dan Megah. Setiap sudutnya bersih tanpa ada sampah. Petugas kebersihan secara berkala mengepel dan membersihkan lantainya. Dan yang luar biasa, petugas kebersihan itu kebanyakan adalah kaum hawa yang sudah berusia lanjut. Udara di dalamnya dingin dan segar full AC. Disetiap terminal memiliki keistimewaan tersendiri. Toilet sangat bersih dan modern. Disana sini tersedia tempat untuk mengisi air minum. Walaupun namanya bandara, tidak pernah sedikitpun terdengar suara pesawat. Iringan music yang nyaman selalu terdengar di seluruh bagian bandara. Sungguh…lebih tepat jadi supermall daripada bandara.



Jam 8 malam aku duduk-duduk di terminal 2. Hp berbunyi..Mr.Taha telpon. Aku segera mengangkatnya. Dia memintaku menemuinya di terminal 1. Akupun langsung cabut ke terminal 1. Disana aku menemuinya, dia sedang bersama temannya. Aku pun diperkenalkan dengannya. Namanya Sherren. Dia juga merupakan petugas di Changi, hanya berbeda bagian dengan Mr.Taha. Umurnya masih muda sekitar 2 tahun lebih tua dariku. Malam itu Mr.Taha mengajak kami ngobrol dan minum kopi bersama. Mr.Taha memang baik, dia yang traktir semua kopi dan camilan malam itu. Kami berbincang tentang banyak hal malam itu. Wah…Sungguh…Orang-orang yang luar biasa.

Tak terasa sudah hampir 1 jam kami berbincang. Mereka pun harus kembali bekerja. Mr.Taha bilang kalau dia kelar kerja jam 12 malam.  Yah…kembali setelah itu aku sendiri lagi. Setelah itu aku hanya duduk-duduk dikursi yang tersedia di terminal 2. Malam mulai larut aku merasa ngantuk. Ingin sekali rasanya merebahkan badan, tapi walau bandara ini sangat luas tidak ada satupun orang yang tidur sembarangan di lantai seperti di Indonesia. Ternyata diluar dugaan. Aku ngantuk tapi aku malu untuk tidur dilantai takut dimarahi petugas batinku. Akhirnya aku hanya mencoba tidur dalam posisi duduk. Hah..susah sekali tidur dalam posisi duduk seperti ini. Aku pun hanya memandangi orang-orang berlalu lalang di depanku. 

Jam 12 lebih tiba-tiba Hp berbunyi. Ada sms dari Mr.Taha. Where are you? Tanyanya. Aku pun membalas di terminal 2. Tidak lama kemudian ada orang memanggilku. Dia Mr.Taha. kami pun berbincang sejenak di tempat itu. Entah karena apa tiba-tiba Mr.Taha menawariku untuk ikut dengannya ke Hotel. Wah…aku menolak karena jujur I don’t have much money to stay at hotel. Tapi Mr.Taha bilang tenang nanti saya yang urus. Wah...aku bingung..semula aku agak ragu untuk ikut dengannya karena aku baru hari itu bertemu dengannya. Takut di jual atau di apa-apain. Tapi setelah merenung akhirnya aku putuskan untuk ikut. Aku percaya Mr.Taha orang baik dan aku hanya berdoa kepadanNya agar selalu diberi keselamatan.

Tidak lama setelah itu kami berjalan keluar bandara. Mr.Taha menyetop taksi dan kami pergi naik taksi. Inilah untuk pertama kalinya aku melihat Singapore di luar bandara. Sekilas kulihat kanan kiri lingkungannya tertata sangat rapi  an sepertinya tidak ada rumah kecil. Semua berbentuk semacam hotel atau apartement. Dalam perjalanan kami menuju hotel itu Mr.Taha sedikit menjelaskan tentang tempat-tempat yang kami lalui itu.

Jam 12.45 waktu Singapore kami sampai di hotel. Mr.Taha segera menuju meja receptionist dan memesan kamar. Aku diminta menunjukkan passport. Setelah dapat kunci kami pun segera menuju kamar. Tidak lama kami pun sampai di kamar. Pintu kamar segera dibuka dan Mr.Taha menyalakan lampu. Wah...kamar yang simple dan sangat bersih. Mr.Taha menawariku untuk mandi, tapi rasanya aku sudah terlalu kantuk dan aku pun menolaknya. Melihatku yang sudah terkantuk berat Mr.Taha segera mempersilahkanku untuk tidur sedangkan dia pergi untuk mandi. Aku rebahkan tubuhku di kasur yang sangat empuk dan nyaman itu. Selimut tebal menghangatku dari udara dingin malam itu. Aku berdoa dan berterimakasih atas pertolongan yang diturunkannya malam itu. Aku pun terlelap.

Belum lama rasanya menutup mata, terdengar suara alarm yang sengaja aku set jam 5.00. Yah..aku terbangun, sementara Mr.Taha masih terlelap. Aku ambil air wudhu dan sholat subuh. Mr.Taha sepertinya terbangun karena gerakanku, setelah shalat subuh dia bertanya padaku. Mengenai depart pesawatku hari itu. Aku depart ke Thailand jam 1 siang. Aku harus check in jam 11. Mr.Taha bilang kalau kami akan keluar hotel sekitar jam 7. Dia memintaku untuk mandi dan bersiap-siap. Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap.

Kamis 6 Desember 2012. Tak kusangka akan menjadi hari yang indah dan luar biasa bagiku di negeri tetanga ini. Pagi itu kami check out hotel sekitar jam 7. Aku dan Mr.Taha berjalan keluar hotel. Subhanallah..inikah Singapore..sungguh tertata rapi dan bersih. Rasanya lebih mirip di negara-negara Eropa yang sering kulihat di TV. Mr.Taha memanggilku, aku tebangun dari lamunan. Dia membawaku ke sebuah rumah makan. “we will take a breakfast here”,katanya. Kami pun sarapan bersama di warung itu. Warung itu menyajikan berbagai makanan halal. Sistemnya seperti prasmanan sehingga kita diminta mengambil sendiri. Aku hanya mengambil nasi dan sedikit sayur. Mr.Taha pun segera mengambilkanku daging dan bilang “Don’t worry, you are my friend. It will be free for you.” Dia rupanya ingin mentraktirku lagi. Wah..subhanallah baik sekali orang ini ya Rab...  

Geylang, adalah daerah dimana kami berada saat itu. Mr.Taha bilang kalau daerah ini merupakan pusatnya orang Melayu di Singapore. Masjid hanya ada di kawasan ini karena kebanyak orang melayu adalah muslim. Di daerah lain tidak ada masjid karena kawasan tinggal etnis lain. Mr.Taha juga menjelaskan kalau tempat ini adalah favoritnya orang-orang Indonesia untuk tinggal selama mereka di Singapore. Banyak orang Indonesia yang datang ke Singapore untuk berdagang atau hanya sekadar berlibur. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Batam. Mr.Taha juga menjelaskan bahwa di Singapore tak ada rumah-rumah kecil macam di Indonesia. Disini semua rumah berupa apartment. Jadi rumah bagi mareka ya apartment. Pantas saja selama perjalanan aku tak menjumpai rumah-rumah. Satu kalaimat yang mencenangkan aku dengar dari mulut Mr.Taha. “Tanah negeri kami ini sempit dan kami harus berfikir keras agar seluruh rakyat dapat tempat tinggal.” Hm..teringat akan luasnya tanah negeriku Indonesia akan tetapi efektivitas sistem pengelolaannya sangat dipertanyakan.

Dan kenyataan yang seperti mimpi pun dimulai. Mr.Taha seperti hendak memberiku kejutan. Ternyata pagi itu dia ingin membawaku keliling Singapore. Ya…aku dibawanya mengelilingi negeri Kecil nan idah itu. Aku diajaknya naik bus public dan MRT. Aku diajak pula ke beberapa tempat eksotis favorit apara pelancong. Dia menunjukkanku lintasan F1 yang ternyata adalah jalan raya. Dia juga menunjukkanku tempat-tempat berbangunan megah yang dulunya adalah lautan yang disulap menjadi daratan oleh manusia. Dan yang luar biasa dia membawaku ke vivo city, harbor front. Ini adalah salah satu tempat yang pernah aku mimpikan dan aku saat itu berdiri disana. Sungguh luar biasa apa yang diberikanNya memalaui malaikat yang bernama Mr.Taha di Singapore ini. Inilah keindahan dan petualangan luar biasaku bersama Mr.Taha di Singapore.




Mr.Taha bilang dahulu kawasan ini adalah laut...dan lihatlah sekarang macam begitu...Sungguh Singapore punya tekad kuat..Salut banget — in Singapore, Singapore.

Tempat favorit para pelancong dan orang singapore bersantai menikmati waktu luang.. — at Vivo City Shopping Mall.

cruise center...semacam ambarokmo tp dijadiin pelabuhan kapal..ckckckck — at Singapore Cruise Centre.

 

pertama kalinya aku naik MRT singapore. Kereta bawah tanah super cepat. Kata Mr.Taha, kalau mau muter2 Singapore, tinggal naik aja MRT.Murah dan cepat. Kita juga bisa melihat pemandangan indah ketika kereta ini keluar dari tanah :D.. Kereta ini luar biasa. Kata beliau, ada 4 tingkat rel di bawah tanah.Jd ada 4 tingkat rel dibawah tanah. Yah....Jangan dibandingkan kereta ekonomi progo atau kelas executive indonesia sekalipun..jauh :D — at MRT.


Waktu terasa sangat cepat berlalu, tak terasa waktu sudah cukup siang dan aku harus segera pergi ke bandara. Sebenarnya Mr.Taha sangat ingin mengajakku ke patung singa Marlion. Tapi karena waktu sudah mepet check in, jadi dia tak mau ambil risiko dan segera mengantarkanku menuju bandara menggunakan MRT. Cukup nyesel sebenarnya tidak bisa ke Marlion, tapi Mr.Taha berjanji suatu saat nanti akan mengajaku ke Marlion. 

Inilah petualanganku selama 24 jam di Singapore. Sungguh petualangan yang indah dan diluar dugaan. Petualangan yang penuh anugrah dan keberuntungan. Selama 24 jam di negeri ini, aku bisa merasakan nikmatnya tidur di hotel, makan enak gratis, muter-muter naik bus dan MRT gratis dan bisa melihat indahnya vivo city dan tempat-tempat indah lainnya. 

Aku bukanlah orang cerdas ataupun jenius. Aku bukan pula orang kaya. Aku hanyalah orang yang beruntung. Nantikan kisah petualanganku di negeri Gajah. Thanks for visit :)


The Wonderful of Cave

Selasa, 29 Januari 2013
GUA KRISTAL

          Cerita kali ini datang dari my home town Gunungkidul regency. Gua Kristal...itulah objek yang kali ini akan coba saya gambarkan kepada seluruh pembaca my blog. Gua ini terletak di kecamatan Semanu, tepatnya di kompleks gua Jlamprong. Gua Jlamprong mungkin sudah tidak asing di telinga anda. Jikalau anda mengunjungi gua Jlamprong, mungkin anda tidak menyangka bahwa terdapat gua yang cukup indah di dekat gua Jlamprong. Bukanlah gua gesing, akan tetapi gua tersebut adalah GUA KRISTAL. Sebenarnya belum ada nama yang jelas mengenai gua ini, akan tetapi karena di dalamnya mengandung kristal yang cukup indah tidaklah berlebihan bila gua ini disebut GUA KRISTAL.

           Sesuai dengan namanya, di dalam gua ini memang terdapat batu-batu berkristal yang terlihat cukup mempesona. Kerlap-kerlip krstal jelas terlihat apabila batu-batu kristal tersebut terkena cahaya. Gua ini tergolong gua yang cukup sempit dan tidaklah dalam. Gua ini hanya terdiri dari satu ruang gua dan jarak lantai gua dengan atap guanya  pun sangat dekat, sehingga untuk menelusurinya kita harus merangkak. Gua ini tergolong kedalam gua alami dan komponen-komponen guanya terlihat masih nature. Stalaktif dan stalakmit masih tumbuh yang ditandai dengan masih menetesnya air pada ornamen-ornamen gua tersebut.  Alhamdulilah sekali ya gua ini belum banyak dikenal, sehingga ekosistem guanya masih sangat terjaga.

            Daripada banyak omong, mari bersama kita tengok serpihan keindahan gua Kristal ini.










That Was My First Flight



Pagi buta 04 Desember 2012, jam 02.00 WIB kereta progo sampai di stasiun Senen. Turun aku dari kereta itu dengan rasa kantuk. Teringat aku belum shalat isya. Dengan menggendong tas backpacker aku langsung berjalan menuju Mushola. Tapi sesampainya di sana ternyata mushola masih tutup. “Masih tutup mas, sebentar lagi juga buka. Tunggu saja disitu biasanya jam3 buka,” sahut seorang petugas penjaga toilet. Akupun harus menunggu hingga mushola buka untuk sholat.

Setelah selesai sholat aku berjalan mencari tempat singgah tak jauh dari mushola. Suasana masih sangat sepi. Hanya segelintir orang berlalu lalang entah apa yang mereka cari. Sebagian terlelap di lantai beralaskan kardus. Ya…suasana masih sama. Pagi yang dihiasi banyak nyamuk. Aku teringat saat petualanganku dulu bersama-sama kawan-kawan ke pulau Tidung. Persisi di tempat ini petualangan kami di Jakarta bermula. Sungguh rindu aku dengan masa-masa itu. Untungnya aku bawa autan. Belajar dari pengalaman itu kini aku tidak lagi menjadi korban keganasan nyamuk senen. hehe

Setelah sholat Subuh aku bergegas melangkah keluar stasiun. Pagi itu masih gelap tapi sudah ramai sekali aktivitas di luar sana. Ya..namanya ibukota sih..kota yang sangat sibuk. Yang kutuju adalah shuttle bus way Trans Jakarta. 

Setelah berjalan kurang lebih 10 menit sampai juga di shuttle bus way. Masih tutp ternyata. Tapi sudah cukup panjang antrian menunggu bukanya loket. Aku pun turut masuk antrian itu. Setengah jam menunngu akhirnya buka juga loketnya. Wah..ternyata kalau masih pagi-pagi harga tiketnya murah. Cukup 1.500 rupiah, padahal normalnya kan 3.500 rupiah. Setelah menunggu akhirnya datang juga bus way itu. Karena lelah semalaman di kereta, aku pun terlelap selama perjalanan di dalam bus way.

Tujuanku adalah rumah ibukku yang terletak di Condet, Jakarta Timur. “mas-mas…sudah sampai PGC,”seorang petugas trans Jakarta membangunkanku dari kelelapan pagi itu. Yah..untuk sampai di rumah ibu harus dilanjutkan dengan naik angkot. Gampang kok kalo cari angkot di Jakarta, asal tahu jalurnya aja. Untung udah lumayan hafal jalur angkot disini. Jadi ga bingung lagi.

Setelah naik angkot sampai juga di jalan dekat rumah ibu. Ibu sudah menantiku disana. Kuturun angkot langsung melakukan ritual, ya…berpelukan..hehe..lama ga ketemu ibu rasanya kangen…banget. Beruntung dah dapet kesempatan ini bisa sekalian ketempat ibu.

Sesampainya dirumah ibu aku langsung menuju kamar dan tepar saking capeknya. Ternyata ada bapak baru juga dirumah. Beliau belum lama pulang dari Mesir. Kami pun bercakap-cakap dan bercanda gurau. Ibu menyiapkan sarapan seraba lengkap pagi itu. Pasti, setiap kali aku berkunjung ke Jakarta, Ibu mengatakan”le..kok awakmu cilik banget to nang, tambah kuru wae,” padahal perasaan bobotku ya segitu-segitu terus. Perasaan ibu aja berarti. Hehe

Aku istirahat semalam di rumah ibu. Keesokan harinya aku harus berangkat. Semalam di tempat ibu adalah malam yang cukup indah bagiku. Tenang rasanya diberi banyak nasihat baik dari Ibu maupun dari Bapak. Mereka terlihat bangga mendengar kabar akhirnya aku bisa juga menepati janjiku. Ya…dulu beliau pernah mengajakku naik pesawat. Tapi dulu aku menolak, karena aku ingin flight ku yang pertama adalah karena usahaku sendiri. Berulang kali mereka mengajakku naik pesawat tapi aku tetap menolak. Jujur, naik pesawat bagiku adalah salah satu mimpi besarku sejak kecil. Dan kini aku mendekati mimpiku itu karena besok flight pertamaku akan datang.

Malam itu disaat aku packing ibu memberi kabar yang sedikit membuatku takut. Beliau tidak bisa mengantarku ke bandara besok karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan saat itu. Semula aku merasa tenang karena bakal ditemani Ibu ke bandara dan tidak perlu bingung masalah check in, boarding dan segala macam karena ibu udah biasa masalah kayak gituan. Tapi ternyata besok aku harus sendiri ke bandara dan aku belum tau mekanisme apa saja yang harus kulakukan disana besok. Dag, dig, dug..semalam itu pikiranku gak tenang. Karena resah, aku pun searching internet mengenai tata cara check in, boarding dan segala macem sebelum akhirnya masuk pesawat. Walau banyak informasi sudah kudapat melalui internet, tapi tetap saja rasanya resah. Takut aku besok bingung disana.

Rabu, 05 Desember 2012. Akhirnya hari itu datang juga. Aku bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap. Walau check in pertamaku tertulis jam 09.25, tapi mengingat keadaan lalu lintas Jakarta yang padat dan rumah ibu cukup jauh dari bandara, ibu memintaku bersiap dari pagi. Kembali aku cek segala macam barang dan dokumenku. Semua sudah ku kemas rapi semalam. Takut ada yang tertinggal, kembali aku check satu demi satu. Sip..semua lengkap.

Pagi itu sekitar jam 8 ibu mengantarkanku ke PGC. Ibu langsung mencarikanku taksi. Beliau tidak mau ambil risiko karena kalau naik yang lain pasti terancam macet. Padahal semula niatku mau naik Bus saja yang murah tapi ibu bersikeras melarang. Yah..akhirnya aku naik taksi juga yang mahalnya minta ampun.

Tapi memang segala sesuatu itu ada hikmahnya. Siapa sangka di selama perjalananku menuju ke bandara aku mendapatkan ilmu banyak seputar tata cara naik pesawat. Adalah bapak supir taksi. Beliau ternyata mantan pekerja di bandara Soekarno-hatta. Dalam bincang kami beliau menjelaskan segala macam tentang tatacara naik pesawat lengkap pkoknya. Bahkan beliau menceritakan pengalaman hidupnya selama bekerja di Bandara. Sedikit cerita saja, beliau memilih walk out dari kerjanya dibandara karena ternyata pekerjaan disana banyak yang tidak halal. Beliau berkata jikalau orang-orang yang ada disana memang terlihat keren dan bijaksana, tapi ternyata mereka banyak pula yang busuk. “hah..jangan mudah tertipu penampilan mas...mereka banyak yang busuk dan mata duitan,” kata beliau. Wah..macam mana jadinya kalau petugas bandara seperti ini. Pantas saja banyak aksi penyelundupan ke bangsa ini. La wong ternyata orang-orangnya banyak yang curang. Batinku.

Yah…beruntung bagiku selama perjalan ke bandara itu mendapat banyak gambaran apa saja yang harus kulakukan di bandara. Setelah sejam perjalanan sampai juga aku di bandara. Hah…kembali Jantungku berdetak kencang. Entah kenapa masih saja aku sedikit resah. “Terminal 2 ya mas, disana pesawatnya nanti,”kembali sebelum pergi bapak sopir taksi berteriak kepadaku. Ya..inilah untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Bandara. Huh..sendirian. Harus sendirian. Aku berjalan menuju Terminal 2. Setelah sampai disana ternyata belum bisa check ini. “Setengah jam lagi mas baru boleh masuk, “ kata bapak petugas yang jaga pagi itu. Akupun menunggu disana. Tingak-tinguk seperti orang hilang saja. Daripada geje aku memilih untuk berjalan-jalan disekitar terminal 2 itu. Oh ya..aku teringat belum menukar uang dolar Singapore. Aku harus transit sehari di Singapore. Jadi untuk persiapan aku tukar sebagian uangku untuk biaya hidupku sehari disana. Alamak…yang benar saja, uang 300 ribu-nya Indonesia Cuma jadi sekitar 36 dolar Singapore. Ckckck…uang Indonesia memang kebanyakan angka ya…nilainya padahal ternyata kecil bila disbanding negara lain.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya bisa check ini juga. Aku sengaja masuk terakhir biar bisa liat orang-orang check in. Oh..ternyata kayak gitu. Sama seperti yang diceritakan bapak tukang sopir taksi tadi. Aku pun masuk dan check in. Setelah pemeriksaan, aku menuju ke loket Tiger airways. Mereka memintaku menujukkan tiket. Aku tidak kaget ketika diminta membayar airport tax sebesar 150 ribu. Aku sudah mendengarnya dari bu Tiwi dan Anand sahabatku yang sudah terbang duluan. Kabarnya hanya di Indonesia saja yang bandaranya meminta bayar airport tax. Wah…apa memang benar sih ya bangsa ini mata duitan..ckckck.

Setelah check in dan mendapatkan kartu boarding, aku diarahkan menuju bagian imigrasi. Ya..dibagian ini segala dokumenku diperiksa. Sudah aku persiapkan dan tidak ada masalah. Setelah passport di cap aku diarahkan ke gate 6 tempat aku masuk pesawat. Akupun berjalan mencara gate 6. Tidak sulit menemukannya karena di bandara banyak papan informasi yang terpampang sehingga memudahkan kita mencari dimana letak lokasi yang kita cari. Setelah sampai di gate 6, kembali dokumen dan barangku diperiksa. Sip..tak ada masalah. Mereka pun memintaku masuk ke waiting room untuk menunggu pesawat datang.

Yah…agak boring aku di waiting room. Banyak orang tapi pada sibuk sendiri-sendiri. Disini aku merasa menjadi orang yang paling tidak sibuk. Banyak orang berjas dan berdasi, banyak pula para bule. Mereka semua terlihat sangat sibuk dan tergesa-gesa menunggu pesawat. Sepertinya mereka dikejar waktu. Akupun Cuma mlongo melihat gerak-gerik mereka.



Setelah hampir sejam menunggu, akhirnya ada pengumuman sudah diperbolehkan naik pesawat. Wah..yang benar saja, langsung pada berdiri dan berlari menuju gate. Bahkan berdesak-desakan juga. Walah..ini mau masuk pesawat ternyata sama aja mau masuk kereta ekonomi. Apa susahnya sih antri sabar gitu. Wong ya pasti dapet tempat. Batinku.

Aku berjalan menyusuri lorong menuju pesawat dengan persaan gugup, apakah ini beneran. Batinku. Kulihat arah depan, seorang pramugari dan pramugara menyambut kedatangan penumpang dengan wajah berseri dan penuh senyum. Satu persatu kami diminta menunjukkan boarding pass. Setelah itu kami dipersilahkan menuju tempat duduk yang telah tertera di boarding pass. Ya….Entah semacam kebetulan atau ini merupakan anugrah dariNya aku mendapatkan tempat duduk di dekat jendela dan dari jendela itu aku bisa melihat sayap pesawat. Persis sama dengan apa yang pernah muncul di mimpiku. Huh…aku duduk di kursi itu masih dengan perasaan gugup. Sedikit-sedikit aku melihat kanan-kiri dan melihat kearah luar melalui jendela. Setelah lama menunggu, ternyata 2 kursi di dekatku kosong. Jadi aku hanya sendiri di kursi itu.

Dan sepertinya mimpi besar itu sudah tidak sabar ingin dicoret. Aku terbangun dari lamunan ketika suara pesawat mulai mendengung. Pesawat sudah mulai berjalan menuju landasan take off. Pramugari segera mempraktekkan tata cara pemakaian perlengkapan keamanan bila terjadi keadaan darurat. Tidak lama setelah itu terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera take off dan penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman. Dag, dig, dug kembali jantungku berdetak kecang. Ya Allah..apakah ini nyata. Aku benar-benar masih seperti mimpi. Pesawat mulai berdengung kencang dan bergerak melaju dengan kecepatan tinggi pertanda pesawat akan segera take off. Dan ketika itu wush…aku tengok dari jendela pesawat sudah melayang meninggalkan daratan. Saat itu aku tutup mataku rapat-rapat perasaanku takut.

Take off pertama ini ternyata cukup menakutkan bagiku. Setelah posisi pesawat mendatar, aku kembali buka mata dan menengok kearah luar, kulihat daratan nampak di bawah. Tak lama setelah itu kulihat lautan dibawah sana. Perlahan pesawat naik dan menerobos awan. Ketika menerobos awan terasa goncangan terasa. Aku pun hanya menutup mata dan berdoa. Setelah kubuka mataku kembali, dan kutengok kearah luar daratan sudah tak nampak. Lautan biru kini telah menjadi lautan putih. Ya…pesawat kini telah diatas awan. Ya Allah….keindahan yang luar biasa tersaji diluar sana. Benar-benar diatas awan. Aku pernah bermimpi seperti ini dan kini aku nyata menjalaninya. Rasa takjub tiada henti melihat segala keindahan yang tersaji disana. Awan-awanputih bak kumpulan kapas. Mentari yang bersinar begitu terang. Keindahan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sungguh aku benar-benar terbang…aku kini telah terbang..inilah salah satu mimpiku dari kecil…mimpi yang kini telah resmi tercoret.

Inilah sedikit gambar keindahan selama perjalananku terbang ke Singapore. Sungguh keindahan yang tak mampu kuucap dengan kata-kata.

Ya..itulah penerbangan pertamaku yang sekaligus mencoret salah satu mimpi besarku dari kecil. Beruntung memang, dalam lawatanku ke Thailand aku harus menempuh 2 kali penerbangan. Soeta ke Changi Singapore, setelah transit semalam baru terbang lagi dari Singapore ke Thailand. Jadi total dalam perjalananku ini selain aku diberi kesempatan menyambangi Singapore, aku juga diberi kesempatan 4 kali terbang. Wah..Sungguh luar biasa apa yang telah diberikanNya padaku dalam perjalanan ini.

Ketika dipesawat, sesuai dengan harapanku, aku selalu mendapatkan kesempatan duduk di sebelah jendela setiap perbedaan jalur terbang. Yakni saat terbang dari Jakarta ke Singapore dan ketika balik dari Thailand ke Singapore. Bahkan aku juga duduk di dekat jendela ketika penerbangan terakhir dari Singapore ke Jakarta yang merupakan pernerbangan terindah karena ketika hendak mendarat aku disambut pemandangan berupa pelangi diatas laut yang sungguh indah luar biasa. Sebelumnya juga dari atas aku bisa melihat keindahan pulau-pulau kecil Indonesia yangh tersebar di lautan. Tersadar aku akan sungguh luasnya negeri kita ini. Apalagi jika disbanding dengan Singapore. Cuma sak semut. Tapi kok ya bisa maju seperti itu.   

Penerbangan paling menyakitkan adalah penerbangan dari Jakarta ke Singapore, saat itu telingaku rasanya sakit luar biasa. Mungkin itu yang disebut dengan turbulensi kali ya. Atau mungkin baru pertama kali jadi belum terbiasa.        

Penerbangan paling membuat jantungan adalah penerbangan dari Hat Yai, Thailand ke Changi, Singapore. Cuaca mendung dan berulang kali pesawat bergetar menabrak awan. Bahkan sempat juga hujan menerjang. Dan yang paling membuat berdebar adalah ketika pesawat membelok tajam menghindari awan hitam. Wah…dari jendela aku bisa melihat sayap sampai berposisi di bawah. Saat itu hampir semua penumpang berteriak, wa…berarti memang penerbangan ini yang ekstrem. Buktinya bukan cuma aku yang teriak.hehe…

Itulah kisah penerbangan pertamaku dan sekaligus penerbangan ke dua, ketiga dan keempatku yang hanya bisa terjadi karena Anugrah dari-Nya. Sungguh inilah mimpi besar yang menjadi nyata yang akan terus ku kenang seumur hidup. Satu coretanku di tembok kamar resmi tercoret sudah. J Nantikan ceritaku petualanganku di Singapore dan Thailand yang tak kalah penuh Keberuntungan. Terimakasih atas kesediannya membaca.
 
    

Flowers

Flowers
The beauty Arachnis

Serangga galau

Serangga galau
The Romantic Insect

Amblyphigi

Amblyphigi
Salah satu biota penghuni ekosistem Gua
 

Browse